Kopi Mahal Lidah Murahan, Salah Siapa?

Saya mulai mengenal kopi dari umur 5 tahun, nenek  menyiapkan segelas besar kopi untuk kakek saya setiap pagi di meja makan, dan tegukan pertama adalah jatah saya mencicipinya, entah mengapa tegukan dari gelas kakek merupakan kopi yang paling enak menurut saya, dalam keluarga kami, kopi adalah minuman wajib setiap hari sebelum memulai aktifitas, hari – hari  selalu dimulai dengan menyesap nikmatnya segelas kopi, ya segelas, bukan secangkir karena secangkir tidak akan pernah cukup, padahal katanya kopi tidak bagus dikosumsi oleh anak – anak, tapi karena terbatasnya informasi pada saat itu, nenek selalu memperbolehkan saya meminumnya, Alhamdulillah tidak ada yang bermasalah dengan tumbuh kembang saya, atau mungkin kalau tidak dijejali kopi otak ini bisa sedikit lebih encer kali ya… hihihi…

kopi yang kami minum sebenarnya tidak murni, cuma kopi murahan yang sudah dicampur dengan jagung atau beras yang digongseng sedemikian rupa sehingga menghasilkan aroma yang khas, tentu saja rasanya tidak senikmat kopi murni karena tingkat keasamannya juga semakin tinggi kalau dicampur dengan bahan lain, tapi aroma yang dihasilkan sangat menggoda. mencampurnya  dengan jagung atau beras adalah sebuah alternatif agar harga bisa ditekan, sehingga masyarakat berpenghasilan rendah pun seperti petani yang merupakan mayoritas penduduk dikampung kami bisa duduk ngobrol ngalor ngidul bersama diwarung sambil menikmati wanginya aroma kopi tanpa resah memikirkan berapa harga yang harus dibayar nantinya.

sebagai penikmat kopi, saya selalu saja tertarik bila ada sesuatu yang baru berhubungan dengan minuman beraroma harum tersebut , seperti kopi yang berumur 4 tahun yang ditawarkan disebuah cafe di Banda Aceh, kalau di daerah lain mungkin sudah banyak yang menyediakan kopi yang berumur 4 tahun bahkan ada yang berumur 5 tahun, tapi di Aceh itu merupaka sesuatu yang baru. menurut informasi yang saya baca kopi yang disimpan  lama semakin menurut tingkat keasamannya sehingga tidak akan membuat lambung bermasalah dan aromanyapun semakin keluar karena  kadar kelembabannya juga semakin rendah. tergoda dengan kabar kenikmatan kopi berumur 4 tahun, berangkatlah kami ke cafe yang menyediakan kopi tersebut.

kopi 4 tahun

kopi berumur 4 tahun

awalnya just perfect, si bayi tidur, abangnya ceria, pak suami juga antusias ingin menikmati kopi tersebut. suasana mulai kurang menyenangkan ketika melihat daftar menu, segelas kecil espresso kopi 4 tahun harganya 30 ribu rupiah, alarm emak – emak irit mulai menyala…. ini kemahalan untuk kami yang biasanya minum seharga 4000 ribu rupiah secangkir. untuk aroma memang harum, tapi untuk rasa menurut saya sama saja dengan  espresso arabika yang biasa pak suami minum, harganya cuma 16 ribu rupiah 🙂 untuk si Abang kami pesankan iced coffee float,  untuk harga 25 ribu segelas rasanya kog biasa saja menurut saya, malah cenderung kurang enak, saya pribadi cari aman karena sedang menyusui jadi pesan jus pokat harganya 20 ribu rupiah, ini yang paling ajaib rasanya menurut saya, saya itu tidak pernah tidak habis kalau minum jus pokat mau enak ataupun tidak, saya upayakan selalu habis, karena memang saya butuh banyak asupan asam folat. tapi malam itu rasa jus pokatnya diluar kemampuan toleransi lidah saya. betul – betul jauuuh dari selera saya. akhirnya pak suami jadi korban, menghabiskan jus pokatnya.. hihihi…

Mungkin tidak ada yang salah dengan cafe tersebut, hanya lidah murahan saya yang belum menemukan kenikmatan minuman – minuman mahal tersebut, secara kami biasa minum kopi seharga 4000 ribu rupiah dan jus pokat cuma 10.000 ribu rupiah…. weleh… weleh…weleh…

kopi pancung

kopi pancung 4000 ribu rupiah

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *