Perlengkapan Persalinan yang Harus dibawa

hufff…. lamanya ga update # sapu debu n sarang laba – laba dulu#… yang punya blog emang bukan manusia rajin, jadi maafken ya teman – teman….
kali ini mau cerita – cerita sedikit  tentang pengalaman diriku melahirkan, berhubung ini adalah anak kedua jadi persiapannya ga heboh – heboh amat, ditambah lagi masih banyak perlengkapan bayi lungsuran dari abangnya dan sepupunya… tapi akibat kelewat santai mempersiapkan perlengkapan bayi, akhirnya diriku kena batunya sodara – sodara….

jadi begini ceritanya, si bayiku yang kedua ini di diagnosa plasenta previa alias tali pusar yang letaknya dibawah, tapi bukan yang menutupi jalan lahir seluruhnya, hanya menutupi sebagian saja, jadi ada kemungkinan akan naik dengan sendirinya sejalan dengan membesarnya rahim.

alhamdulillah di kehamilan bulan yang kesembilan, hasil USG menunjukkan bahwa plasentanya sudah naik, kondisi bayi dan ibu sehat,  sehingga 99% proses melahirkan bisa secara normal, saat itu bersyukuuuur banget, karena dari awal emang kalau bisa jangan sempat dech ceasar, diriku cita – citanya pingin punya 5 anak, kalau ceasar kan jadi terbatas kan ya…..?

manusia berkehendak Allah lah yang menentukan, hari itu tanggal 7 desember 2015, yaitu hari  EDD, maka kami berangkat ke RS untuk pemeriksaan kenapa si bayi anteng aja dalam perut ga ada tanda – tanda mau keluar. seperti biasa sesudah pemeriksaan tekanan darah dan berat badan selanjutnya usg, nah disinilah bagian yang bikin syoknya, kalau disinetron ditandai dengan musik gonjreng dan artisnya meneriakkan kata” Appppaa….???!!!” sambil melotot ( lebay.com ). ternyata ketubannya tinggal sedikit dan sudah keruh, bayi harus dilahirkan saat itu juga kata bu dokter. mau tidak mau harus induksi, kebayang kan sakit induksi itu 2 kali lipat sakit melahirkan normal, diriku yang dikehamilan pertama juga harus induksi karna KPD udah setres duluan…

langsung lapor pak suami yang saat itu tidak masuk keruang pemeriksaan, karena harus mengawasi si kecil yang sedang bermain di arena bermain anak yang ada didepan ruang pemeriksaan…

” abi…… ummi ga boleh pulang lagi, bayinya harus dilahirkan sekarang juga, ketuban udah tinggal sikit dan keruh, bahaya untuk bayi”. lapor saya dengan pikiran ga karuan, karena ga ada persiapan apapun ke RS ortu juga belum dikabari.

giliran suami yang bilang “appaaaa????” tapi ga bisa melotot karna matanya sipit. hehehe…
suami mulai panik nelpon sana – sini, apesnya ga ada satupun yang tersambung, saya langsung diarahkan ke ruang bersalin untuk induksi, suami langsung ngurus administrasi sambil ngejar – ngejar sikecil yang ternyata udah bergerilya keruangan lainnya… Tobaaaat…., pokoknya hari itu adalah hari rempong sedunia…

masuk ruang bersalin yang pertama dilakukan adalah mengukur denyut jantung dan pergerakan bayi pakai alat yang entah apa namanya…. tiba – tiba masuk perawat sambil bawa tabung oksigen kemudian memasangkan selangnya ke hidung saya, saya jelas protes dunk…

“lho saya ga sesak nafas kog dipasang oksigen sih dek “?

” ini untuk bayinya bu, ibu tarik nafas dalam – dalam ya ? “

perasaan udah mulai ga enak karena ibu – ibu disebelah juga persiapan induksi , tapi ga ada pake oksigen, malah anteng – anteng aja ditempat tidur sambil makan siang. kenapa saya dipasangi oksigen?

setelah 3 kali keluar print outnya dari mesin yang diriku tak tau namanya tersebut, tiba – tiba beberapa perawat yang ada disitu panik, sambil bilang “ya Allah”, dan yang satunya menyuruh temannya untuk menghubungi dokter segera…perawat yang lain terus membimbing saya untuk menarik nafas  dalam – dalam. jangan ditanya bagaimana horornya perasaan saya saat itu, kalau diingat – ingat lagi bisa buat bulu kuduk merinding disko. dokterpun datang dan meminta perawat untuk memanggil pak suami tanpa babibu lagi langsung bilang ke pak suami kalau jantung bayinya sudah lemah dan harus segera dilakukan tindakan operasi ceasar, yang jadi kendala adalah peralatan untuk penanganan bayi hipoksia sudah penuh di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) , sedangkan bayinya diperkirakan akan hipoksia yaitu kondisi dimana bayinya kekurangan oksigen didalam rahim dan itu ditandai dengan bayi yang tidak menangis saat lahir, dan itu sangat berbahaya. dokter mengajukan 2 opsi , yang pertama, operasi dilakukan segera dirumah sakit tersebut, dengan harapan bayinya bisa menangis nantinya, dan yang kedua operasi dilakukan di Rumah Sakit Zaenal Abidin yang masih tersedia 1 unit lagi peralatan untuk penanganan hipoksia di NICU anak, tapi pasti akan habis waktu dijalan, sedangkan bayinya harus segera dilahirkan karena detak jantungnya makin melemah.

pak suami yang galau menanyakan kembali ke saya, saya jadi 10 x lipat lebih galau, akhirnya pak suami mengambil keputusan untuk dilakukan opersai dirumah sakit RSIA saja, dengan harapan nanti bayinya bisa menangis, karena kami ga mau ambil resiko nanti kalau bayinya terlambat dilahirkan.

saya langsung disorong ke ruang operasi, sambil mulut komat kamit baca mantra eh, baca doa dink, agar nanti bayi selamat dan bisa nangis dengan kencang.

Alhamdulillah, Allah emang maha pengasih dan maha mengabulkan doa hambanya, bayiku lahir dengan selamat, normal dan dengan tangisan yang super kencang, beribu – ribu syukur saya panjatkan saat itu, air mata ga terasa udah ngalir aja ga mau berhenti, udah ga peduli lagi sama bu dokter yang sedang jahit, obras n bordir ni perut. hihihi…

kenapa diatas tadi saya katakan kena batunya karena terlalu santai?  nah, begini ceritanya, setelah operasi kan seharusnya badan kita ditutupin pake kain panjang sebelum dibawa keruang pemulihan pasca operasi, kebetulan kain panjangnya itu saya taruh di tas perlengkapan ibu, dan tas itu warnanya merah dan kebetulan tas perlengkapan bayi juga warnanya merah bentuknya aja yang berbeda, otomatis pak suami nyari kain panjangnya ga dapat – dapat . lha dia carinya di tas perlengkapan bayi, pemnelajaran kedepan suami harus tahu betul apa saja isi dalam tas perlengkapan yang harus dibawa dan kalau bisa tasnya harus beda warna antara perlengkapan ibu dan bayi. karena kejadian tersebut badan saya harus ditutupi dengan seragam opersi yang warna ijo ituuuh, kalau dingat lagi bikin sebeeeeeel….

kejadian pak suami pusing nyariin perlengkapan berlanjut juga sampai ke kamar di RS, pas perlu sesuatu pasti susah musti nunjuk – nunjuk, secara habis operasi itu untuk balik aja sakitnya ampun – ampun apalagi kalau harus duduk tegakin kepala untuk nunjuk – nunjuk tobat dach…..

berikut catatan untuk kedepan siapa tahu kami diberi kepercayaan lagi untuk nambah momongan:

  1. tas perlengkapan Ibu dan anak harus beda warnanya
  2. pastikan suami sudah tahu betul apasaja yang ada didalam kedua tas tersebut.
  3. kalau ada yang menyarankan lebih baik  bawa diaper for adult dari pada pembalut untuk ibu melahirkan jangan dengarkan, kalau ragu bawa keduanya. gara – gara saya ikut saran bidan untuk bawa diaper, saya dijutekin sama perawat, katanya masa udah anak kedua belum tahu lagi yang harus dibawa? padahal kalau dijelasin ceritanya panjaaaang, tapi ya sudahlah.

Tas perlengkapan Ibu

  1. pembalut bersalin
  2. 5 set underwear
  3. 3 baju kancing depan, daster paling oke, pokoknya yang nyaman
  4. 1 sarung
  5. bersambung

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *